(Masih) Ada?

Putus cinta itu biasa. Sakit hati juga sudah biasa. Apa pun yang ada awalnya pasti ada akhirnya, kata temen-temen, akhirnya itu kalau ngga di pelaminan ya jadi undangannya. Bercandaan seperti ini kadang kala menghibur hati, tapi ada kalanya juga bikin empet dan sakit hati. Khususnya saat patah hati, bukannya memberi semangat malah semangat meledek. Yaaah, begitulah. Kali ini aku yang menjadi korban, aku menerima undangan dari mantanku. Dia akan menikah dengan wanita pilihannya. Terkejut? Pastinya! Setelah hampir tujuh tahun kami bersama, melewati LDR atau PJJ (Pacaran Jarak Jauh), putus nyambung yang aku sendiri sampai lupa berapa kali, pada akhirnya hubungan itu tidak bisa dipertahankan. Terlalu banyak cerita, terlalu banyak yang terlibat, terlalu dalam juga untuk terus digali. Pada akhirnya, perpisahan menjadi jalan keluar instant.

Aku masih ingat bagaimana aku merasa lega dibalik air mata yang sama sekali ngga aku undang untuk datang. Ya, aku menangis. Hampir sebulan aku merasa tidak nyaman dengan segala apa yang aku lakukan, sedangkan aku saat itu mendengar dia sudah jalan sama orang lain. Dalam hati, “Serius ini orang. Selama ini apa dia benar-benar punya rasa sama aku? Atau dia selama ini hanya bersandiwara?!”. Kurang lebih itu yang aku pikirkan. Rasanya nyesek di hati, mau balikan, aku ngga punya nyali untuk mengulang perjalanan yang melelahkan itu. Iya lelah, aku lelah bersandiwara bahwa hubungan kami baik-baik saja dan menolak menerima kenyataan bahwa dia yang dulu sudah menjadi orang yang berbeda. Mungkin benar, jarak dan waktu dapat mengubah seseorang. Belum lagi cerita perselingkuhan yang membumbui kisah kami. Itu menjadi agenda utama yang semakin menjauhkan hati kami dan memperbesar perbedaan tanpa kami sadari.

Zooey Deschanel + Mad Men Wedding Inspiration

Ku lihat lagi kartu undangan yang aku taruh sekenanya di atas meja. Saat terakhir kami bertemu, aku memutuskan untuk menghilangkan kontak dengan dia, jika tidak, cerita kami akan terulang lagi dan lagi. Jadi, saat itu aku membulatkan tekad untuk menyudahi semuanya, sesakit apa pun, saya harus bisa. Dan memang saya bisa melaluinya dengan air mata diawal.

“Nat, ada undangan. Aku bawain ke kantor kamu ya.” Begitu telp yang aku terima pagi ini. Sandra, sahabat kami dari jaman SD tidak biasanya bersemangat untuk datang ke tempat kerjaku, secara tempat kerja kami berlawanan arah. Biasanya perlu rayuan maut untuk mendatangkan dia, paling sering aku yang menghampiri ke tempat kerjanya karena searah dengan pusat keramaian tempat kami “membaca orang”. Oh ya, Sandra itu psikolog anak. Dari jaman kami kecil kami suka duduk memperhatikan orang, ada keasyikan sendiri dari aktifitas itu yang membuat kami sadar bahwa manusia itu memang tercipta dengan beragam karakter.

“Kamu baik-baik aja kan, Nad?” Aku memandang Sandra dengan wajah bingung.

“Maksud?” Aku bertanya dengan kerutan tebal dikeningku.

“Iya masalah Andre. Andre nikah lhooooooo…” Aku tersenyum, ada perasaan yang tidak bisa aku jelaskan. Bukan cemburu, aku yakin itu. Bukan juga kecewa. Ntahlah, aku sama sekali tidak bisa menggambarkan perasaanku. “Bagus lah buat dia.” Aku jawab sekenanya.

“Ngga sayang dengan waktu yang udah lewat? Dan pada akhirnya dia memutuskan untuk memilih orang lain?”

“…”

“Maksudku, kalian bersama hampir tujuh tahun walalupun ada putus sambung segala. Cuma dia gampang banget untuk memutuskan menikah dengan yang sekarang, padahal baru juga pacaran. Ngga sampe mereka dua tahun bersama kok.”

“Ooooh, jadi kamu ngikutin kisah mereka?” Aku tertawa. Rasa apa ini? Apa iya aku kecewa? Ngga deh, ngga mungkin. Sudah lebih dari tiga tahun hubungan kami berakhir, ngga mungkin rasa itu masih ada. Sekali pun ada, bukan cemburu juga kan? Aduh,… apa ini?

“Ngga sengaja. Gara-gara aku sempat ketemu mereka di acara reuni sekolah dua tahun lalu. Kamu kan ngga ikut gara-gara ngga mau ketemu Andre.” Sandra menunjukkan foto-foto reuni dua tahun lalu. Waktu itu aku memutuskan untuk tidak datang dengan berbagai pertimbangan, Andre salah satunya yang menjadi pertimbanganku. Aku masih single saat itu, ngga ada pacar. Aku dulu berjanji pada diriku sendiri untuk tidak akan bertemu dengan Andre sebelum kami memiliki pasangan masing-masing. Jadi, tidak ada alasan untuk kami kembali behubungan. Naif. Tapi keputusan itu lah yang akhirnya membuatku kuat.

“Kamu mau pergi?” Aku tanya Sandra.

“Belum tau. Kamu?”

“Kayanya ngga deh, Kevin masih di Melbourne dan aku ngga mau dong datang sendiri. Bener-bener ya, pasti bertemu lagi. Cuma aku ngga pernah nyangka bakalan ketemu sebagai undangan.”

“Hahaha…” Aku dan Sandra hanya bisa tertawa, membayangkan kemungkinan yang akan terjadi kalau sampai aku hadir. Mungkin aku akan bilang terima kasih telah menjadi mantan pacar yang baik; atau mungkin aku akan bilang bahwa aku masih ada rasa; atau aku akan minta Andre meninggalkan pelaminan?! Ntah bagaimana tanggapan kedua mempelai jika hal itu terjadi. Aku pasti jadi orang yang paling jahat! “Udah ah, balik dulu. Kamu anterin aku pulang kan San?”

“Alamak, kau naik taxi lah! Udah aku jemput masa aku anter balik juga.”

“Ya elah, rumah kau itu berdekatan dengan rumah aku. Cuma lima menit juga dari rumahku ke tempatmu. Ayo lah!”

Perjalanan pulang hari ini terasa jauh lebih panjang, padahal ngga ada macet. Apakah aku masih punya beban di hati? Tentang aku dan Andre? No way! It’s over and I got over it years ago.

Bersambung…

xxLovexx

Published by thehungrykittens

A free soul living in the island of dream.

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started